Menengok Ujian Calon Abdi Negara (1)
Ajang Silaturahmi Teman Kuliah
Pekan kedua Bulan Desember tahun lalu sepertinya menjadi kenangan tersendiri. Saat itu, lebih dari 1.500-an lulusan PTN dan PTS tumplek bleg ikut seleksi menjadi calon pelayan publik.
”Mumpung ada kesempatan tidak salahnya ikut seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS),” saran seorang orangtua waktu itu. Arief, demikian nama sang belahan jiwa ini pun mengangguk tapi ragu. Keraguan lulusan Teknik Sipil Unlam Banjarbaru ini memang sangat beralasan. Sudah dua tahun ini ia menikmati gaji cukup layak sebagai seorang konsultan di daerah Kaltim sana. Ia pun sungguh merasa bahwa gajinya tersebut sudah melampaui Upah Minimum Regional kala itu.
Alasan lain, Arif merasa belum mood untuk menjadi seorang pelayan publik tersebut. ”Mungkin kesempatan lain aja ulun ikut,” gumamnya saat itu.
Lelaki masih bujangan ini memang sudah menetapkan pilihan tahun 2007 ini tidak ikut. Tetapi berbeda dengan kawan seangkatan kuliah di Teknik ikut-ikutan seleksi CPNS. Tak hanya itu, teman lainnya yang biasa tergabung di organisasi eksternal di kampusnya tersebut.
Sebut saja satu nama, Rudi, pria bertubuh atletis lulusan Fakultas Pertanian ini, mempunyai pilihan lain. Kendati sudah mapan bekerja di perusahaan pembiayaan ternama. Tetapi, pria berambut ikal mengatakan ia harus menggunakan fotokopi berlegalisir ijazah maupun transkrip akademik. Mungkin ia merasa percuma, bila IPK yang hasilnya memuaskan tapi tidak digunakan untuk melamar jadi seorang abdi masyarakat dan negara. ”Mumpung ada kesempatan dan formasi ku banyak dicari. Tidak salahnya mencoba,” terangnya kepada wartawan koran ini, Desember tahun lalu.
Rudi mengakui selain mentes kemampuan intelektualnya, ia berasalan ikut ujian CPNS sebagai sarana untuk reuni dengan kawan-kawannya di kampus hijau itu. Entah apakah kawan seangkatan, satu organisasi maupun kawan lainnya. ”Ini adalah reuni yang tidak resmi. Pasalnya pas pelaksanaan ujian kita bertemu lagi dengan sahabat-sahabat lama satu perjuangan saat makan bangku kuliah,” ungkapnya.
Bukan ia saja yang merasa hari pelaksaan ujian sebagai ajang reuni. Udin, lulusan lainnya lainnya yang sudah kerap ikut ujian CPNS mengakui hampir setiap tahun ia mengikuti tes CPNS. Jadinya, ia dapat berkumpul dan bertukar khabar dengan kawan-kawan di kuliah dulu. Sebenarnya, sangat baik juga ikut seleksi CPNS. Karena dari reuni tidak resmi ini siapa tahun, rekan kuliah sudah menjadi sukses. Tentunya, dapat menjadikan sharing dalam berusaha. (m wahyuni)
