Pisang Kapas untuk Pengganjal Perut
Menikmati perjalanan menyusuri tepi gunung sungguh terasa mengasikkan. Apalagi saat perut lapar, ada tanaman pengganjal sementara yang bernama pisang kapas.
M WAHYUNI, Barabai

Menjelang siang, hari itu, Pertengahan Tahun 2008. kami (reporter liputan HST) kembali menjelejahi pinggir kawasan pegunungan Meratus. Tepatnya di Kecamatan Batang Alai Timur (BAT). Di kecamatan ujung, Kabupaten HST ini masih banyak pesona yang tak pernah habis untuk diinformasikan kepada Anda. Terik matahari siang tersebut tak menyurutkan langkah 6 pasang kaki menempuh perjalanan bersama.
Pada mulanya kami hanya ingin mengunjungi SMPN1 BAT yang terkenal lantaran usaha kebersihan sekolah (UKS) mendapat peringkat nomor wahid se Kalsel dan menyambangi Masjidi, guru SDN Batu Perahu yang terkenal luar biasa karena berjalan kaki pulang pergi selama 6 jam hanya untuk membagi ilmu pengetahuan kepada anak gunung.
Sepenggal jalan itu, kami harus menyinggahi kawan yang hidupnya di sekitar pinggir pegunungan yang tebentang hingga beberapa kabupaten itu. Pada sebuah pinggir sungai Batang Alai Timur airnya begitu segar saat kami menjejakan kaki ke dasar sungai. Warna airnya jernih, batu di dasar nampak jelas. Lumut yang merayap di atas bebatuan di dasar sungai tampah hening. Dinginnya air sungai itu, sangat bertentangan dengan suasana di atas yang menyengat. “Ehm segar sekali,” gumam Iwan yang terlihat membasuh wajahnya dari peluh. Dari kota Barabai ke tempat itu memang lumayan memakan waktu yang banyak, apalagi hanya menggunakan roda empat jenis carry bermesin 1.000 CC. Ah, tak apalah yang jelas. Kami sudah di sungai dan berusaha menyeberang sungai berair dangkal menuju kebun Pa Wahid. Lantaran tak terlalu bersiap diri, kawan-kawan yang memakai sepatu kulit atau jenis sport terpaksa melepasnya duluan. Bahkan kaos kaki bermacam merek harus di parkir sebentar. Tak kurang dua menit, sungai beriak kecil berlebar sekira 7 meter ini pun secara mudah dapat ditaklukkan.
“Meski surut ada tantangan jua,” ucap Rafdi, yang terpaksa melipat celana kain hingga ke setingkat lutut. Memang kami berangkat menjelang siang, dan saat sampai di sisi seberang sungai tampak matahari berada tepat di atas ubun. Iyalah tengah hari pun telah menyapa dan tentunya kebutuhan dasar pun mulai terganggu. Rasa lapar pun merayap di perut. Beruntungnya kawan kami di seberang tadi sudah bersedia pisang kapas manis. “Alhamdulillah pisang barang dahulu asa lapar banar parut,” terang Yudi sambil mengambil sebiji pisang diiringi yang lainnya di lampau Pa Wahid. (bersambung)