Menyusuri “Tepi” Pegunungan Meratus (2)

Meniti Galangan Persawahan Berlumpur

Bila lapar menggelayut dalam perut bisa dihentikan sementara dengan pisang kapas manis. Ada juga cerita tentang menyusuri persawahan yang penuh jebakan lumpur.

M WAHYUNI, Barabai

Hati-Hati, awas lumpur

Hati-Hati, awas lumpur

Bagi warga Aluh-Aluh Kabupaten Banjar mungkin sudah sangat terbiasa dengan kehidupan bahuma (menanam padi). Tapi, bagi Anda yang tidak berasal dari sana, atau jarang berhubungan dengan sawah, tidak salahnya berbagi informasi bagaimana menyusuri persawahan di lembah Pegunungan Meratus.

Bila biasanya, petani Meratus menanam padi jenis Buyung di mungkur (bukit). Beda sifat dengan warga yang bahuma di lembah. Di lembah ini, sudah memakai benih varietas IR-42. Jenis padi ini, memang relatif berumur pendek. Sekira 4 bulan dari batanam, padi ini pun sudah dapat di panen. Waktu itu, kami berenam (termasuk saya) seperti menemukan mainan baru, saat melintasi galangan persawahan yang di kelola teman kami, Pa Wahid. Pria bersahaja inilah yang memetik dan menyajikan pisang kapas manis untuk menahan lapar sementara bagi kami berenam yang saat itu agak kelaparan. Bisa di bayangkan di bawah terik siang setumat haja kami sudah merasa perut keroncongan, apalagi jemaah haji tahun tadi saat wukuf di padang Arafah harus menahan lapar. Pastinya diperlukan kesabaran dan kekuatan menahan lapar. Saat para dermawan membagikan pisang mereka pun harus berebut untuk makan.

Kembali ke awal bagaimana meniti galangan. Bak belajar mainan baru, juga sebagai refreshing lantaran dituntut hunting berita setiap hari kami pun berjalan di tanah selebar puluhan centimeter. Berat tubuh ternyata mempengaruhi kecepatan gerak lho. Buktinya, Ari, yang bertubuh agak ramping memimpin di depan. Sedangkan Rafdi yang berbadan lumayan gede harus kalah di belakang. Terkadang, bagi yang berbadan lamak harus ektra hati-hati. Jebakan lumpur di tanah berjenis Ultisols bisa melilit dengan kuat. “Eiiet, nyaman kada basandal jua,” kata Yudi setengah mengejek kepada kawan yang waktu itu memakai sandal gunung yang diduga aspal (asli tapi palsu)?. Tak dipungkiri menaklukan jalan berlumpur harusnya tidak memakai sandal. Asli atau palsu sebenarnya tidak ada bedanya. Yang jelas berjalan di tanah persawahan lebih baik jangan pakai sandal. Kalau mau beralas jua lebih sepatu bot. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s