Menyusuri “Tepi” Pegunungan Meratus (3)

Belajar Menjuluk Rambutan Hutan

Bila biasanya Anda hanya memakan rambutan yang dijual di pasaran. Bagaimana suasana berburu rambutan yang rasanya tidak seperti rambutan biasa.

M WAHYUNI, Barabai

mencari manis di hutan

mencari manis di hutan

“Ii buhannya handak malihat nyiur babuah rambutankah?,” teriak Ari dari kejauhan di tengah rimbun hutan Maligam Pegunungan Meratus. Kawan-kawan yang berada di belakang akhirnya belarian untuk mengetahui kebenaran informasi tersebut. Seperti biasa, kami pun harus cek dan ricek setiap informasi yang sangkut ke telinga kami. Apalagi buat berita yang notabene di konsumsi publik.

Gegap langkah pun menyeruak beriringan dengan saat kaki menjejak tanah. Hanya hitungan detik, lokasi yang katanya nyiur berbuah rambutan itupun kami temukan. Buah berbulu berwana merah tampak menyembul di sela-sela daun nyiur yang tingginya sekira 10 meter. Bukan hanya satu daun, di sebelahnya juga terdapat rambutan masak. Benarkah nyiur berbuah rambutan? Untuk mengetahu secara detil, Anda harus berdiam diri beberapa detik. Perhatikan dengan seksama buah rambutan itu. Mulai dari ujung rambutnya, selanjutnya tangkai, kemudian ke dahan. Oo itu dia, sembari menunjuk Rafdi mengatakan ada pohon rambutan yang tumbuh tak jauh dari nyiur. Buah rambutan yang ranum itu, memang melebar hingga menyelinap di balik daun nyiur. Tinggi pohon rambutan hanya beberapa jengkal di bawah nyiur. Jadinya, sangat pantas bila buah rambutan seolah menempel pada daun nyiur.

“Ayo ke sana gin, pak Wahid sudah ke sana,” ajak Ari yang bahu kananya memikul karung kosong untuk tempat buah rambutan. Kaki pun kami geser ke depan, menerabas kumpulan nenas hutan. Tibalah di pohon rambutan hutan yang memang menjulang tinggi. Tak beberapa lama, pa Wahid menjuluk buah rambutan tersebut setangkai demi setangkai. Bukks…bunyi setangkai rambutan hutan yang menyentuh tanah. Bergegas Ari mengambilnya, dengan cekatan buah itu pun di kupas dengan giginya. Nyam..nyam, buah ini pun dimakannya secara lahap. Hanya selemparan, Ari juga membagikannya dengan kawan-kawan. Buah itu dapat dibuka dengan tangan lalu leps..di makan. Rasa rambutan hutan agak berbeda dengan rambutan di pasaran. Seperti apa ya, rasa gula memang terasa di lidah, tetapi rasa kecut juga tak mau kalah. “Kayak ini pang rasanya,” kata Pa Wahid sambil tersenyum penuh arti. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s