Makan Enak dengan Lauk Iwak Telang
Pernahkan Anda makan siang di tengah persawahan di kawasan Pegunungan Meratus? Bila belum, rasanya belum lengkap cerita hidup Anda tanpa merasakannya. Hmm Nikmat dan nyaman banar.
M WAHYUNI, Barabai
“Amun makan pisang haja kada kenyang. Tunggu ja aku masakkan dulu,” kata istri Pa Wahid. Benar saja, ibu yang mempunyai tiga anak ini dengan tangan terampilnya menyajikan kami makan siang yang luar biasa. Lebih dari 30 menit kami menerabas hutan Maligam maupun berjalan di galangan persawahan tentunya membuat pengganjal kenyang lenyap. Kendati makan pisang kapas beberapa biji, tak bisa juga menghantarkan untuk menolak tawaraan istri Pa Wahid.
Setelah seperempat karung rambutan sudah kami peroleh kami pun bergegas untuk kembali ke lampau (pondok kecil untuk tempat istirahat di sawah). Namun untuk pulang kami tak melewati lumpur sawah. Tak juga berkutat dengan keladi hutan. Perjalanan pulang kami lakukan dengan memutar. Kondisi jalannya tak begitu menyulitkan, bisa dipastikan hanya beberapa detik lampau pun kami dapati.
“Ayo langsung aja makanan,” ajak Pa Wahid. Ajakan yang begitu menggoda itupun langsung kami tanggapi dengan serius. Namun untuk memenuhi kaidah kesehatan, kawan-kawan harus cuci tangan dan cuci kaki dahulu ke sungai. Proses pembersihan bagian tubuh berlangsung cepat. Akhirnya satu demi satu kami beranjak naik ke lampau.
Sajian yang dihidangkan istri Pa Wahid yang juga mengajar sebagai guru di SDN Hinas Kiri sungguh membuat liur turun dengan sendirinya ke tenggorokkan. Nasi putih masih terlihat berkukus menandakan baru diangkat dari panci. Di bagian tengah, sayur useng-useng setengah matang kacang panjang sudah berkedip. Fisik sayuran ini menampakan bahwa pembuatnya begitu rapi memadukan bumbu. Ini belum cukup, di sebelang useng-useng kacang. Ada sebuah piring kecil yang isinya ikan dari air tawar dan laut. Siapa itu?,Hmm ikan asing sepat dan telang yang baunya sudah dari tadi memenuhi rongga hidung.
“Bismillahirrahmanirrahim,” nasi bercampur useng-useng dan iwak telang sudah berada di mulut. Beberapa kali kunyah, makanan itu pun meluncur. Krak ehm, rasa asin dan gurihnya useng-useng semakin kuat untuk terus di makan. Suap demi suap, akhirnya sepiring nasi pun ludes kami santap. “Nyaman banar ih,” tambah pang pinta Yudi sambil mengambil nasi. Semilir angin yang masuk dari dinding lampau berukuran 3 x 3 meter semakin membuat nikmat makan siang di pinggir Pegunungan Meratus. “Benar-benar luar biasa bu masakkannya,” ucap Rafdi sambil menyalami Pa Wahid dan istrinya saat kami beranjak pulang. (bersambung)